Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 September 2014
Kematian Yang Menggetarkan Jiwa
Di sebuah kampung hiduplah seorang nenek guru ngaji. Beliau dikenal dengan kesantunan, kelembutan, dan kesabaran dalam mengajarkan ilmu agama. Namun demikian dalam hal syariat beliau dikenal sangat jujur dan disiplin.Artinya beliau akan mengatakan A jika memang A dan mengatakan B jika memang B, meski pendapat beliau itu berlawanan dengan pendapat masyarakat pada umumnya yang masih awam.
Usianya sudah uzdur (sekitar 70 tahunan) namun masih segar pancaran wajahnya dan afiat organ tubuhnya. Tidak banyak yang mengetahui keberadaan dirinya, khususnya bagi pemukim baru di kampung itu. Orang menyebut beliau sebagai Nenek Haji (karena sudah naik haji), Nenek Guru, Ustadzah, Encang Haji, atau Encang Guru. Nama aslinya jarang di sebut orang. Ia mengajarkan ilmu agama dan baca Al Quran di rumahnya nan sederhana, di sebuah kampung di pinggiran kota metropolitan.
Encang Guru dikenal tidak membedakan siapapun. Tidak pula membedakan usia. Siapa saja yang ingin mengaji , dipersilahkan datang ke rumahnya secara rutin pada hari dan waktu tertentu. Hanya saja dipesankan kepada mereka yang ingin mengaji, haruslah serius dan istiqomah. Tidak bisa untuk sekedar main-main dan coba-coba.
Dulu, jamaah pengajiannya adalah jamaah kecil. Namun kini, seiring dengan makin mengenalnya orang-orang akan kesantunan, keilmuan, dan sifat penyabar itu, banyak orang yang makin memuliakan diri beliau. Sebuah organisasi besar telah mencatat beliau sebagai tokoh yang semestinya dihormati, dimuliakan, dan diberikan tempat yang sepadan dengan keilmuan dan akhlaknya yang mulia.
Nah, di kampung yang sama hiduplah seorang pria kepala lingkungan yang sifatnya bertolak belakang (antagonis). Dia masih jauh lebih muda (sekitar 50-an) dan memiliki profesi yang sedikit banyak adalah sama, yaitu guru mengaji. Hanya saja dia cenderung bersifat komersial dan serba duniawi. Sebut saja namanya Ustadz Darly
Sebagai contoh sederhana, ketika ia akan memberikan khutbah jumat, maka ia akan pilih-pilih masjid yang bisa memberikan honor besar. Jika ada proyek dari desa/kelurahan, dialah yang bertindak sebagai satu-satunya orang (di lingkungannya) yang bisa mengajukan proposal, mencairkan dana, dan membuat laporan pertanggungjawaban yang realitanya berbeda dengan apa yang dilaporkan.Semuanya dibawah kontrol dia dan keluarganya. Semua kepala lingkungan dibawahnya, tidak ada yang berkutik dan tidak tahu dengan pasti. Jika saluran air diperbaiki ya Alhamdulillah, meski yang diperbaiki 20 m dan yang dilaporkan 100 m. Jika jalan lingkungan di aspal dengan memungut iuran masing-masing rumah yang dilewati sebesar Rp 100.000 ya Alhamdulillah, meski semestinya tanpa harus memungut iuran warga dan semestinya dengan pengaspalan yang bagus. Orang yang banyak berhubungan dengan kelurahan saja yang tahu sepak terjangnya, kemudian mereka membocorkannya ke masyarakat secara off the record. Jadi semua pada diam, namun sebenarnya sudah sama-sama paham.
Pada suatu hari dia bertemu dengan Encang Guru di depan rumahnya. Terjadilah percakapan,
“…ngomong-ngomong kontraknya masih panjang apa sebentar lagi nih!”
Darly melontarkan pertanyaan yang bermaksud meledek. Kata seorang warga, memang demikianlah watak si Darly, suka meledek dan memojokkan orang. Rasanya dia tidak akan puas jika belum membuat orang tersinggung atau sakit hati.
Mendengar ledekan Ustadz Darly tadi, Encang Haji hanya berujar dengan sabar, boleh jadi dengan menahan sedikit luka hati di dadanya. Suaranya dipelankan dan disabar-sabarkan.
“Nak Haji…, Namanya umur itu, kita tidak bisa tahu….”
Buru-buru Ustadz Darly memotong pembicaraan,
“…Tapi kontrak gua masih panjang Nek Haji….”
“…Yah namanya umur, Nak Haji ga boleh begitu. Semua sudah ditentukan takdirnya oleh Allah..”
“Iya, tapi kontrak gua masih lebih panjang kan Nek Haji?”
Encang Guru hanya bisa diam mendengar Ustadz Darly yang tidak mau kalah dengan ledekannya. Jika perlu harus mengelus dada untuk menyadarkannya, boleh jadi Encang Haji mungkin sudah melakukannya. Namun apa daya, beliau sudah maklum barangkali.
Kebetulan Ustadz Darly sedang bersama isterinya waktu itu, yang perilakunya tidak jauh beda dengan dirinya. Tiba-tiba isterinya berujar :
“Siapa yang bakal jadi janda lagi ya Nek Haji..”
Isteri Ustadz Darly itu tidak mau kalah bercanda dengan kematian. Encang Haji memang sudah Janda. Seakan dia mengatakan bahwa suaminya masih muda dan masih lama hidupnya di dunia.Tidaklah mungkin dirinya yang terima giliran dan di menjadi janda. Dia menyudutkan Encang haji dengan mengisyaratkan sebuah pertanyaan “Jika bukan Encang Haji yang akan segera wafat lantas siapa dong?”
—
Dua hari kemudian, terdengarlah berita heboh yang tidak disangka-sangka. Ustadz darly dikabarkan meninggal akibat komplikasi usus buntu di sebuah rumah sakit di kota metropolitan.
Sebagian orang menerima kabar dengan sikap biasa tanpa antusias, sebagian lagi kaget karena baru beberapa hari lalu berjumpa dalam kondisi sehat, dan sebagian lagi mensyukuri di dalam hati masing-masing.
Namun ada satu orang yang bergetar jiwanya mendengar kabar itu. Dan ini terungkap beberapa hari setelah masa berkabung lewat dan Dia menceritakan kejadian aneh itu kepada orang terdekat. Dialah Nenek Guru itu.
“Sampai hari ini hati saya masih bergetar jika mengingat kejadian itu….” ujar beliau.
Tanpa menyebut kenapa, kita bisa maklum dan merasakan suasana batin beliau. Beliau tidak mengatakan sesuatu kata apapun ketika beliau diledek dan dipojokkan. Padahal seharusnya dia dimuliakan karena jauh lebih tua dan memang secara integritas dan keilmuan beliau lebih baik.Namun agaknya, Allah SWT tidak rela hambanya yang mukhlis disakiti dan dilukai hatinya.
Allah SWT telah menjawabkan pertanyaan yang enggan beliau jawab waktu itu. Allah SWT telah membalaskannya dengan balasan yang adil.
Hati beliau bergetar karena kekuasaanNya begitu terbentang jelas dihadapan beliau.
Naudzubillah. Semoga kita terhindar dari melukai hati hamba Allah yang berjiwa mulia. Dan semoga ini menjadi penguat bahwa kita tidak perlu risau atau takut dengan celaan orang-orang yang mencela kepada kita. Sandarkan segalanya kepada-Nya. Allah SWT memiliki jawaban terbaik bagi hambaNya.Wallahua’lam.(Eramuslim).
Jumat, 06 Agustus 2010
PERANG BADAR AL-KUBRA
Mendengar berita mengenai rencana kedatangan kafilah perdagangan kaum Quraisy dari Syam di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb, Rasulullah swa mengajak kaum Muslimin langsung di bawah komando beliau untuk mencegat dan merampas kafilah tersebut, dengan dalil sebagai ganti atas kekayaan mereka yang dirampass oleh sebagian kaumkaum musyrikin di Mekkah. Anjuran Rasulullah swa ini hanya dismbut oleh sebagian kaum muslimin karena yang lain menyangka tidak akan terjadi peperangan.
Ditengah perjalannya menuju ke mekkah, Abu Sufyan mendengar bahwa kafilahnya akan dihadang oleh kaum Muslimin. Karena itu, diutusnya seorang kurir bernama Dhamdham bim Amr al-giffari ke Mekkah untuk menyampaikan berita kepada kaum Quraisy dan meminta bantuan pasukan gunnna menyelamatkan harta kekayaan mereka. Setelah mendengar berita ini, seluruh kaum Quraisy serta merta mempersiapkan diri, bersiaga penuh dan berangkat keluar dengan tujuan perang. Tak seorang pun dari para tokoh quraisy yang tertinggal dari keberangkatan pasukan yang berjumlah sekitar seribbu personil ini.
Sementara itu menurut riwayat Ibbnu Ishaq, Rasulullah saw keluar bersama 314 sahabatnya pada suatu malam di bulan Ramadhan dengan membawa 70 ekor unta. Seetiap ekkor unta ditunggangi secara bergantianoleh dua atau tiga orang. Mereka tidak mengetahui akan kebengkatan bala bantuan kaum Quraisy tersebut. Pada saat itu, kafilah Abu Sufyan berhassil lolos meninggalkan dan menyusuri mata air Badar dengan melalui jalan pantai menuju ke arah Makkah. Akhirnya, ia berhasil menyelamatkan kafilah dan perniagaannya dari ancaman bahaya.
Setelah mendengar berita keberangkatan kaum Quraisy, Rasulullah saw segera meminta pandangan dari para sahabatnya. Kaum Muhajirin mendukunng dan memandang baik pendirian beliau. Salah satu di antara al-Miqdad bin Amr yang dengan tegas menyatakan, “Ya Rasulullah apa yang diperintahkan Allah kepada Anda. Kami tetap bersama Anda.....”Akan tetapi, Rasulullah saw terus memandang ke arah mereka dan berkata,”Kemukakanlah pandangan kalian kepadaku, wahai manusia.”Sa'ad bin Mu'adz kemudian menjawab,”Demi Allah, tampaknya Anda menghendaki sikap kami, wahai Rasulullah?” Naabi saw menjawab,”Benar!”Sa'adz berkata,”kami telah bberiman kepada Anda dan kami pun membenarkan kenabbian dan kerasulan Anda. Kami juga telah menjadi saksi bahwa apa yang telah Anda bawa adalah benar. Atas dasar itu, kami menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada anda. Jalankan apa yang anda kehendaki. Kami tetap bersama Anda. Demi Allah, seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun ke dalamnya, kami pasti terjun bersama Anda......”
Mendengar jawaban Sa'ad inni, Rasulullah saw merasa puas dan senang kemudian beliau memerintahkan,”Berabgkatlah dengan hati gembira karena sesungguhnya Allah telah berjanji kepadaku salah satu diantara dua golongan. Demi Allah, aku seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan.......”
Setelah itu, Rasulullah saw mulai mencari berita tentang pasukan Quraisy melalui para “Intel” yang disebarkannya sehingga kaum Muslimin mengetahui bahwa mereka berjumlah sekitar sembilan ratus atau seribu dan bahwa mereka datang disertaai oleh seluruh tokok kaum musyrikin.
Sebenarnya Abu Sufyan telah mengirim seorang kurir ke Mekkah, memberitahukan bahwa kalifahnya telah selamat. Akan tetapi, Abu jahal tetap bersikeras untuk melanjuttkan perjalanan sembiari mengatakan,”Demi Allah, kami tidak akan pulangsebelum pulang dibadar. Di sana, kami akan tinggal selama tiga hari, memotong ternak, makan beramai-ramai, dan mimun arak sambil menyaksikan perempuan-perempuan yang menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah seluruh orang Arab mendengar tentang perjalanan kita semua dan biarlah mereka tetap gentar kepada kita selama-lamanya.”
Mereka kemudian bergerak sampai tiba di ppinnnggir seberang lembah Badar, sedangkan Rasulullah saw telah tiba di pinggir lembah seberang lain dengan posisi hampir berhadapan dengan lawan, dekat mata air Badar. Habbab bin Mundzir bertanya kepada nabi saw, “Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini Anda memerima wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak dapat diubah lagi? Ataukah berdasarkan tipu muslihat peperanga?” Rasulullah saw menjawab,”Tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan tipu muslihat peperangan.” Al-Habbab mengusulkan,”Ya Rasulullah, jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-summur di belakangnya. Kita menbuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian, kita akan bereperang dalam keadaan mempunyai persendian air minum yang cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum.”Rasulullah saw menjawab,”Pendapatmu sungguh baik.”
Rasululluh saw kemudian bergerak dan pindah ke tempat yang diusulkan oleh al-Habbab radhiyallahu 'anhu.
Disamping itu, Sa'ad bin Mu'adz mengusulkan supaya bila ada sesuatu dan lain hal yang tidak diharapkan terjadi, Nabi saw dapat kembali dengan mudah dan selamat kepada kaum Muslimin di Madinah dan agar mereka tidak lemah semangat karena ketidakberadaan Nabi saw diantara mereka. Usulan ini disetujui oleh Nabi saw. Rasulullah kemudian memenangkan jiwa para sahabatnya dengan adanya dukungan dan pertolongan dari Allah swt, sampai-sampai Rasulullah saw menegaskan kepada mereka,”Di sini tempat kematian si fulan dan si fulan (dari kaum musyrikin),”seraya meletakkan telapak tangannya di atas tanah. Akhirnya, nama-nama yang disebut Nabi saw ternyata benar bergelimpangan tepat di tempat yang telah ditunjukkannya itu.
Selanjutnya Rasulullah saw dengan khusyuk memaanjatkan do'a kepada Allah swt pada malam jumat tanggal 17 Ramadhan. Di antara do,a yang diucapkannya ialah:”Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang datangg dengan segaala kecongkakan dan kesombongannya untuk memerangi Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya Allah, kalahkan mereka esok hari.........”
Beliau terus memanjatkan do'a kepada Allah swt dengan merendahkan diri dan khusuk seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit. Karena merasa iba, Abu Bakar berusaha menenangkan hati Nabi saw dan berkata kepadanya:” Ya Rasul Allah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah. Sesungguhnya, Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikannya kepadamu.”
Demikian pula kaum Muslimin, mereka ikut berdo'a kepada Allah swt memohon pertolongan dengan penuh ikhlas dan merendakan diri di hadapan-Nya.
Pada suatu hari jum'at, tahun kedua Hijrah, mulailah pertempuran antara kaum musyrikin dengan kaum Muslimin. Untuk memulai pertempuranini, Rasulullah saw mengambil segenggam kerikil kemudian dilemparkannya ke arah kaum Quraisy seraya berkata”Hancurkanlah Wajah-wajah mereka,”kemudian meniupkannya ke arah mereka sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy. Selai itu, Allah swt juga mendukung kaum Muslimin dengan mengirim bala bantuan Malaikat. Akhirnya, peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan kemenangan yang besar. Dari pihak kaum musyrikin, terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang, sedangkan dari pihak kaum Muslimin gugur mencapai syahid 14 orang.
Mayat-mayat kaum muslimin yang terbunuh dalam peperangan ini-termasuk tokoh mereka-dilemparkan ke dalam sumur tua di Badar. Ketika mayat-mayat itu dilemparkan kedalammya, Rasulullah saw berdiri di mulut perigi itu seraya memanggil nama-nama mereka berikut nama bapak-bapaknya,”Wahai fulan bin Fulan, wahai fulan bin fulan, apakah kalian telah berbahagia karena kalian telah menaati Allah swt dan Rasul-Nya? Sesungguhnya, kami telah menerima kebenaran janji Allah swt yang diberikan kepada kami; apakah kalian juga telah menyaksikan kebenaran yang dijanjikan Allah swt kepada kalian?”
Mendengar ini, Umar radhiyallahu 'anhu bertanya,”Ya rasulullah, mengapa Anda mengajak bicara jasad yang sudah tidak bernyawa?”Beliau menjawab,”Demi Zat yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih mendengar perkataanku daripada mereka!”
Rasulullah saw kemudian meminta pendapat para sahabatnya berkenaan dengan masalah tawaran. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mengusulkan supaya Nabi saw membebaskan dengan cara mengambil tebusan dari ,ereka sehingga harta tebusan itu diharapkan menjadi pemasok kekuatan material bagi kaum Muslimin, disertai harapan mudah-mudahan Allah saw menunjuki mereka. Sementara itu, Umar ibnul Khatthab radhiyallahu 'anhu mengusulkan supaya mereka dibunuh saja karena merreka adalah tokoh dan gembong kekafiran. Nabi saw cenderung kepada pendapat dan usulan Abu Bakar yang memberi belah kasihan kepada mereka dan mengambil tebusan. Akhirnya, pendapat itu pun dilaksanakan oleh Nabi saw. Akan tetapi, beberapa ayat al-Qur'an kemudian diturunkan menegur kebijakan Nabi saw tersebut. Seharusnya, Nabi saw mendukung pendapat Umar. Firman Allah,”Tidak patut seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melimpuhkan musuhnya di muka bumi......Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu.....”(al-Anfal[8]: 67-69).
BEBERAPA 'IBRAH
Perang Badar Kubra ini mengandung beberapa pelajaran dan 'ibrah yang sangat penting, di samping mengandung beberapa mukjizat besar berkenaan dengan dukungan dan pertolongan Allah kepada kaum Muslimin yang berpegang teguh kepada prinsip-prinsip keimanan mereka dan keikhlasan dalam melaksanakan tanggung jawab mereka.
1. Sebab pertama terjadinya perang Badar ini menunjukkan bahwa motif utama kaum Muslimin keluar bersama Rasulullah saw bukan untuk berparang, melainkan didorong oleh tujuan mencengat kafilah Quraisy yang datang dari Syam di bawah kawalan Abu Sufyan. Allah swt menghendaki ghanimah (rampasan perang) dan kemenangan yang besar bagi para hamba-Nya, di samping merupakan tintadakan yang lebih mulia dan lebih sesuai dengan sasaran yang harus dicapai oleh kaum Muslimin dalam kehidupannya. Allah meloloskan kafilah yang menjadi tujuan utama mereka dan menggantinya dengan peperangan yang sama sekali tidaak pernah mereka duga. Hal ini menunjukkan kepada dua hal.
Pertama, semua harta kekayaan kaum kafir Harbi oleh kaum Muslimin dianggap sebagai “harta yan tidak mulia”.Boleh dirampas dan dikuasai oleh kaum Muslimin manakalah mereka mampu mengambilnya. Apa saja yang telah jatuh ditangan Muslimin dianggap telah menjadi milik mereka. Hukum ini telah disepakati oleh para fuqaha. Di samping itu kaum Muhajirin yang telah diusir dari negeri mereka di Makkah menpunyai alasan lain untuk merampas kafilah Quraisy, yaitu usaha pengambilan hak sebagai ganti rugi kekayaan mereka yang masih tertinggal di Makkah dan dikuasai oleh kaum musyrikin.
Kedua, kendatipun hal ini diperbolehkan, Allah menghendaki pada hamba-Nya yang beriman suatu tujuan yang lebih mulia daripada tindakan tersebut dan lebih sesuai dengan tugas yang menjadi sasaran pencitaan mereka , yaitu bertaqwa pada agama Allah swt, jihad di jalanNya, berkorban dengan nyawa dan harta demi meninggikan kalimat Allah swt. Itulah sebabnya, Abu Sufyan kemudian berhasil lolos bersama kafilahnya dari kaum Muslimin. Sementara itu, pasukan Quraisy menderita kekelahan. Hal ini merupakan tarbiyah Illahiyah bagi kaum Muslimin yang dengan jelas tampak tergambar dalam firman Allah swt: “Dan (ingatlah), ketika Allah menjadikan kepadamu bahwa salah satu dari golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedangkan kamu menginginkan bahwa yang ridak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk kebenaran yang benar (membuktikan kebenaran) dengan ayat-ayat-Nya dan menusnakan orang-orang kafif.”(al- Anfal:[8]:7).
2. Dalam mengdapi musuh tersebut ada dua pelajaran yang sangat penting:
Pertama, Prinsip musyawarah. Rasulullah selalu berpegang teguh kepada syura dalam menghadapi semua permasalahan. Kaum Muslimin menyepati bahwa syura, dalam masalah yang tidak ditegaskan oleh nash al-Qur'an dan as-Sunnah, merupakan prinsip perundang-undangan yang tidak diabaikan . Adapun menyangkut massalah yang sudah ditegaskan oleh al-Quran atau hadits, tidak boleh diperlukan lagi adanya syura dan bahkan tidak boleh dikalahkan oleh kekuasaan apa pun. Kedua, bahwa kondisi peperangan ataau perjanjian antara kaum Muslimin dan umat lain dibolehkaaan untuk tunduk kepada apa yang disebut dengan siyasah syar'iyah (politik syariat) atau hukmal imamah keputusan pemimpin).
3. Kenapa Rasulullah terus memandang ke arah sahabat-sahabatnya? Karena Rasulullah tidak puas dengan jawaban mereka, dan Rasulullah ingin mengetahui pendapat kaum Anshaor dalam masalah peperangan tersebut. Apakah mereka mengemukkan pendapat berdasarkan kepada mu'ahadah (janji setia) di antara mereka dan Rasulullah ataukah mereka akan mengemukakan pendapat berdasarkan rasa keislaman mereka dan mu'ahadah kubra (janji agung) terhadap Allah. Perjanjian yang di muat oleh firman Allah swt:”Sesungguhnya Allah telah membeli diri orang-orang yang beriman (Mukmin) diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, injil dan al-Qur'an. Siapakah yang paling menepati janji (sellain) daripada Allah? Bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu. Itulah kemenangan yang benar.”(at-Taubah [9]:111).
4. Dalam melaksanakan jihad dan lainnya, imam dibolehkan menggunakan “intel” (spionase, mata-mata) yang disebarkan dikalangan musuh guna membongkar dan mengetahui perencanaan dan kekuatan mereka. Untuk melaksanakan tujuan ini, dibolehkan menggunakan beraneka sarana asalkan tidak merusak
Ditengah perjalannya menuju ke mekkah, Abu Sufyan mendengar bahwa kafilahnya akan dihadang oleh kaum Muslimin. Karena itu, diutusnya seorang kurir bernama Dhamdham bim Amr al-giffari ke Mekkah untuk menyampaikan berita kepada kaum Quraisy dan meminta bantuan pasukan gunnna menyelamatkan harta kekayaan mereka. Setelah mendengar berita ini, seluruh kaum Quraisy serta merta mempersiapkan diri, bersiaga penuh dan berangkat keluar dengan tujuan perang. Tak seorang pun dari para tokoh quraisy yang tertinggal dari keberangkatan pasukan yang berjumlah sekitar seribbu personil ini.
Sementara itu menurut riwayat Ibbnu Ishaq, Rasulullah saw keluar bersama 314 sahabatnya pada suatu malam di bulan Ramadhan dengan membawa 70 ekor unta. Seetiap ekkor unta ditunggangi secara bergantianoleh dua atau tiga orang. Mereka tidak mengetahui akan kebengkatan bala bantuan kaum Quraisy tersebut. Pada saat itu, kafilah Abu Sufyan berhassil lolos meninggalkan dan menyusuri mata air Badar dengan melalui jalan pantai menuju ke arah Makkah. Akhirnya, ia berhasil menyelamatkan kafilah dan perniagaannya dari ancaman bahaya.
Setelah mendengar berita keberangkatan kaum Quraisy, Rasulullah saw segera meminta pandangan dari para sahabatnya. Kaum Muhajirin mendukunng dan memandang baik pendirian beliau. Salah satu di antara al-Miqdad bin Amr yang dengan tegas menyatakan, “Ya Rasulullah apa yang diperintahkan Allah kepada Anda. Kami tetap bersama Anda.....”Akan tetapi, Rasulullah saw terus memandang ke arah mereka dan berkata,”Kemukakanlah pandangan kalian kepadaku, wahai manusia.”Sa'ad bin Mu'adz kemudian menjawab,”Demi Allah, tampaknya Anda menghendaki sikap kami, wahai Rasulullah?” Naabi saw menjawab,”Benar!”Sa'adz berkata,”kami telah bberiman kepada Anda dan kami pun membenarkan kenabbian dan kerasulan Anda. Kami juga telah menjadi saksi bahwa apa yang telah Anda bawa adalah benar. Atas dasar itu, kami menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada anda. Jalankan apa yang anda kehendaki. Kami tetap bersama Anda. Demi Allah, seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun ke dalamnya, kami pasti terjun bersama Anda......”
Mendengar jawaban Sa'ad inni, Rasulullah saw merasa puas dan senang kemudian beliau memerintahkan,”Berabgkatlah dengan hati gembira karena sesungguhnya Allah telah berjanji kepadaku salah satu diantara dua golongan. Demi Allah, aku seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan.......”
Setelah itu, Rasulullah saw mulai mencari berita tentang pasukan Quraisy melalui para “Intel” yang disebarkannya sehingga kaum Muslimin mengetahui bahwa mereka berjumlah sekitar sembilan ratus atau seribu dan bahwa mereka datang disertaai oleh seluruh tokok kaum musyrikin.
Sebenarnya Abu Sufyan telah mengirim seorang kurir ke Mekkah, memberitahukan bahwa kalifahnya telah selamat. Akan tetapi, Abu jahal tetap bersikeras untuk melanjuttkan perjalanan sembiari mengatakan,”Demi Allah, kami tidak akan pulangsebelum pulang dibadar. Di sana, kami akan tinggal selama tiga hari, memotong ternak, makan beramai-ramai, dan mimun arak sambil menyaksikan perempuan-perempuan yang menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah seluruh orang Arab mendengar tentang perjalanan kita semua dan biarlah mereka tetap gentar kepada kita selama-lamanya.”
Mereka kemudian bergerak sampai tiba di ppinnnggir seberang lembah Badar, sedangkan Rasulullah saw telah tiba di pinggir lembah seberang lain dengan posisi hampir berhadapan dengan lawan, dekat mata air Badar. Habbab bin Mundzir bertanya kepada nabi saw, “Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini Anda memerima wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak dapat diubah lagi? Ataukah berdasarkan tipu muslihat peperanga?” Rasulullah saw menjawab,”Tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan tipu muslihat peperangan.” Al-Habbab mengusulkan,”Ya Rasulullah, jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-summur di belakangnya. Kita menbuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian, kita akan bereperang dalam keadaan mempunyai persendian air minum yang cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum.”Rasulullah saw menjawab,”Pendapatmu sungguh baik.”
Rasululluh saw kemudian bergerak dan pindah ke tempat yang diusulkan oleh al-Habbab radhiyallahu 'anhu.
Disamping itu, Sa'ad bin Mu'adz mengusulkan supaya bila ada sesuatu dan lain hal yang tidak diharapkan terjadi, Nabi saw dapat kembali dengan mudah dan selamat kepada kaum Muslimin di Madinah dan agar mereka tidak lemah semangat karena ketidakberadaan Nabi saw diantara mereka. Usulan ini disetujui oleh Nabi saw. Rasulullah kemudian memenangkan jiwa para sahabatnya dengan adanya dukungan dan pertolongan dari Allah swt, sampai-sampai Rasulullah saw menegaskan kepada mereka,”Di sini tempat kematian si fulan dan si fulan (dari kaum musyrikin),”seraya meletakkan telapak tangannya di atas tanah. Akhirnya, nama-nama yang disebut Nabi saw ternyata benar bergelimpangan tepat di tempat yang telah ditunjukkannya itu.
Selanjutnya Rasulullah saw dengan khusyuk memaanjatkan do'a kepada Allah swt pada malam jumat tanggal 17 Ramadhan. Di antara do,a yang diucapkannya ialah:”Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang datangg dengan segaala kecongkakan dan kesombongannya untuk memerangi Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya Allah, kalahkan mereka esok hari.........”
Beliau terus memanjatkan do'a kepada Allah swt dengan merendahkan diri dan khusuk seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit. Karena merasa iba, Abu Bakar berusaha menenangkan hati Nabi saw dan berkata kepadanya:” Ya Rasul Allah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah. Sesungguhnya, Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikannya kepadamu.”
Demikian pula kaum Muslimin, mereka ikut berdo'a kepada Allah swt memohon pertolongan dengan penuh ikhlas dan merendakan diri di hadapan-Nya.
Pada suatu hari jum'at, tahun kedua Hijrah, mulailah pertempuran antara kaum musyrikin dengan kaum Muslimin. Untuk memulai pertempuranini, Rasulullah saw mengambil segenggam kerikil kemudian dilemparkannya ke arah kaum Quraisy seraya berkata”Hancurkanlah Wajah-wajah mereka,”kemudian meniupkannya ke arah mereka sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy. Selai itu, Allah swt juga mendukung kaum Muslimin dengan mengirim bala bantuan Malaikat. Akhirnya, peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan kemenangan yang besar. Dari pihak kaum musyrikin, terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang, sedangkan dari pihak kaum Muslimin gugur mencapai syahid 14 orang.
Mayat-mayat kaum muslimin yang terbunuh dalam peperangan ini-termasuk tokoh mereka-dilemparkan ke dalam sumur tua di Badar. Ketika mayat-mayat itu dilemparkan kedalammya, Rasulullah saw berdiri di mulut perigi itu seraya memanggil nama-nama mereka berikut nama bapak-bapaknya,”Wahai fulan bin Fulan, wahai fulan bin fulan, apakah kalian telah berbahagia karena kalian telah menaati Allah swt dan Rasul-Nya? Sesungguhnya, kami telah menerima kebenaran janji Allah swt yang diberikan kepada kami; apakah kalian juga telah menyaksikan kebenaran yang dijanjikan Allah swt kepada kalian?”
Mendengar ini, Umar radhiyallahu 'anhu bertanya,”Ya rasulullah, mengapa Anda mengajak bicara jasad yang sudah tidak bernyawa?”Beliau menjawab,”Demi Zat yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih mendengar perkataanku daripada mereka!”
Rasulullah saw kemudian meminta pendapat para sahabatnya berkenaan dengan masalah tawaran. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mengusulkan supaya Nabi saw membebaskan dengan cara mengambil tebusan dari ,ereka sehingga harta tebusan itu diharapkan menjadi pemasok kekuatan material bagi kaum Muslimin, disertai harapan mudah-mudahan Allah saw menunjuki mereka. Sementara itu, Umar ibnul Khatthab radhiyallahu 'anhu mengusulkan supaya mereka dibunuh saja karena merreka adalah tokoh dan gembong kekafiran. Nabi saw cenderung kepada pendapat dan usulan Abu Bakar yang memberi belah kasihan kepada mereka dan mengambil tebusan. Akhirnya, pendapat itu pun dilaksanakan oleh Nabi saw. Akan tetapi, beberapa ayat al-Qur'an kemudian diturunkan menegur kebijakan Nabi saw tersebut. Seharusnya, Nabi saw mendukung pendapat Umar. Firman Allah,”Tidak patut seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melimpuhkan musuhnya di muka bumi......Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu.....”(al-Anfal[8]: 67-69).
BEBERAPA 'IBRAH
Perang Badar Kubra ini mengandung beberapa pelajaran dan 'ibrah yang sangat penting, di samping mengandung beberapa mukjizat besar berkenaan dengan dukungan dan pertolongan Allah kepada kaum Muslimin yang berpegang teguh kepada prinsip-prinsip keimanan mereka dan keikhlasan dalam melaksanakan tanggung jawab mereka.
1. Sebab pertama terjadinya perang Badar ini menunjukkan bahwa motif utama kaum Muslimin keluar bersama Rasulullah saw bukan untuk berparang, melainkan didorong oleh tujuan mencengat kafilah Quraisy yang datang dari Syam di bawah kawalan Abu Sufyan. Allah swt menghendaki ghanimah (rampasan perang) dan kemenangan yang besar bagi para hamba-Nya, di samping merupakan tintadakan yang lebih mulia dan lebih sesuai dengan sasaran yang harus dicapai oleh kaum Muslimin dalam kehidupannya. Allah meloloskan kafilah yang menjadi tujuan utama mereka dan menggantinya dengan peperangan yang sama sekali tidaak pernah mereka duga. Hal ini menunjukkan kepada dua hal.
Pertama, semua harta kekayaan kaum kafir Harbi oleh kaum Muslimin dianggap sebagai “harta yan tidak mulia”.Boleh dirampas dan dikuasai oleh kaum Muslimin manakalah mereka mampu mengambilnya. Apa saja yang telah jatuh ditangan Muslimin dianggap telah menjadi milik mereka. Hukum ini telah disepakati oleh para fuqaha. Di samping itu kaum Muhajirin yang telah diusir dari negeri mereka di Makkah menpunyai alasan lain untuk merampas kafilah Quraisy, yaitu usaha pengambilan hak sebagai ganti rugi kekayaan mereka yang masih tertinggal di Makkah dan dikuasai oleh kaum musyrikin.
Kedua, kendatipun hal ini diperbolehkan, Allah menghendaki pada hamba-Nya yang beriman suatu tujuan yang lebih mulia daripada tindakan tersebut dan lebih sesuai dengan tugas yang menjadi sasaran pencitaan mereka , yaitu bertaqwa pada agama Allah swt, jihad di jalanNya, berkorban dengan nyawa dan harta demi meninggikan kalimat Allah swt. Itulah sebabnya, Abu Sufyan kemudian berhasil lolos bersama kafilahnya dari kaum Muslimin. Sementara itu, pasukan Quraisy menderita kekelahan. Hal ini merupakan tarbiyah Illahiyah bagi kaum Muslimin yang dengan jelas tampak tergambar dalam firman Allah swt: “Dan (ingatlah), ketika Allah menjadikan kepadamu bahwa salah satu dari golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedangkan kamu menginginkan bahwa yang ridak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk kebenaran yang benar (membuktikan kebenaran) dengan ayat-ayat-Nya dan menusnakan orang-orang kafif.”(al- Anfal:[8]:7).
2. Dalam mengdapi musuh tersebut ada dua pelajaran yang sangat penting:
Pertama, Prinsip musyawarah. Rasulullah selalu berpegang teguh kepada syura dalam menghadapi semua permasalahan. Kaum Muslimin menyepati bahwa syura, dalam masalah yang tidak ditegaskan oleh nash al-Qur'an dan as-Sunnah, merupakan prinsip perundang-undangan yang tidak diabaikan . Adapun menyangkut massalah yang sudah ditegaskan oleh al-Quran atau hadits, tidak boleh diperlukan lagi adanya syura dan bahkan tidak boleh dikalahkan oleh kekuasaan apa pun. Kedua, bahwa kondisi peperangan ataau perjanjian antara kaum Muslimin dan umat lain dibolehkaaan untuk tunduk kepada apa yang disebut dengan siyasah syar'iyah (politik syariat) atau hukmal imamah keputusan pemimpin).
3. Kenapa Rasulullah terus memandang ke arah sahabat-sahabatnya? Karena Rasulullah tidak puas dengan jawaban mereka, dan Rasulullah ingin mengetahui pendapat kaum Anshaor dalam masalah peperangan tersebut. Apakah mereka mengemukkan pendapat berdasarkan kepada mu'ahadah (janji setia) di antara mereka dan Rasulullah ataukah mereka akan mengemukakan pendapat berdasarkan rasa keislaman mereka dan mu'ahadah kubra (janji agung) terhadap Allah. Perjanjian yang di muat oleh firman Allah swt:”Sesungguhnya Allah telah membeli diri orang-orang yang beriman (Mukmin) diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, injil dan al-Qur'an. Siapakah yang paling menepati janji (sellain) daripada Allah? Bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu. Itulah kemenangan yang benar.”(at-Taubah [9]:111).
4. Dalam melaksanakan jihad dan lainnya, imam dibolehkan menggunakan “intel” (spionase, mata-mata) yang disebarkan dikalangan musuh guna membongkar dan mengetahui perencanaan dan kekuatan mereka. Untuk melaksanakan tujuan ini, dibolehkan menggunakan beraneka sarana asalkan tidak merusak
Selasa, 15 Juni 2010
Mengenal Negeri Islam Comoro Setelah Lebih Seabad Terjajah

Comoro atau comoros, mungkin baru pertama kali kita mendengarnya. Ada yang mengira Maroko. Tapi ini benar namanya bukan Maroko tapi Comoro. Yang menjadikannya unik bukan karena namanya yang mirip maroko, tapi karena Comoro adalah negara terpencil yang merupakan salah satu negara Islam terpencil dan memang tak banyak orang tahu. Nama lengkapnya Republic Islam Comoro atau ada juga yang menyebutkan Union of Comoro. Dalam istilah lain, mengunakan bahasa Arab, negeri ini dikenal dengan nama Juzur Al Qamar. Terletak di sebalah utara terusan Mozambik, tak jauh dari kepulauan Madagaskar. Sebuah negara kepulauan yang terdiri dari tiga pulau utama. Nama Comoro konon berasal dari kata al-qamar yang bermakna bulan. Ibu kotanya ialah Moroni yang terletak di Grande Comoro. Dan dengan jumlah penduduk dianggarkan 798.000, itu adalah negara Afrika keenam terkecil yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Afrika.

Comoro terkenal dengan keindahan pantainya yang putih, jernih, dan bersih. Hijaunya pengunungan menambah indahnya kepulauan Comoro. Selain pantai, Comoro terkenal juga dengan dua periga perfume essence dunia, sehingga Comoro mendapat sebutan Perfume Islands. Berpenduduk hampir seratus porsen Muslim dan didominasi kebudayaan Arab.
SEJARAH COMORO
Persentuhan Comoro dengan Islam, terjadi melalui para pedagang Arab yang menyebarkan dakwah Islam ke berbagai pulau di sekitar Comoro. salah satu fakta sejarah yang bisa didapatkan saat ini adalah, sejumlah masjid yang dibangun oleh para pedagang Arab di berbagai tempat di Comorosebagai bagian dari asimilasi budaya Islam dan Afrika. Kepulauan Comoro, seperti daerah pesisir lain dikawasan itu, merupakan kawasan persinggahan penting di fase perdagangan awal Islam yang sering dikunjungin oleh pedagang-pedagang Persia dan Arab.
Pada abad kesembilan belas, pengaruh bahasa Arab Sunni mendominasi pulau-pulau. Comoro memalui perdagangan di sepanjang pantai Afrika Timur, dan Timur Tengah. Keberadaan para pedangan Arab, sebagaimana juga terjadi di Indonesia, ternyata bisa diterima oelh masyarakat dan menyebabkan pengaruh budaya Islam begitu meluas. Dan itu pula sebabnya, ketika semangat penjajahan Eropa mulai menunjukkan kecenderungan untuk menduduki Comoro, di tempat itu tradis Islam yang sudah dominan lalu menyebabkan banyak untuk mengingatkan masyarakat akan pengaruh penjajahan Eropa yang hendak menghilangkan akar sejarah Islam di kepulauan Comoro.
Tanggal 6 Juli 1975, Comoro, sebuah negara kepulauan yang terletak di lepas pantai Mozambik, Afrika Tenggara, memproklamasikan kemerdekaannya dari perancis. Comoro memiliki penduduk hampir 100% muslim dan karena itulah rakyat negara ini sepakat untuk mendirikan negara Islam atau Federal Islamic Republic of Comoro. Kepulauan Comoro awalnya dikuasai oleh bangsa Arab sehingga agama Islam menyebar di sana. Setelah itu, Comoro sempat dijajah oleh portugis sebelum akhirnya dikuasai oleh Perancis sejak tahun 1832. Sekitar satu setengah abad kemudian, atau tepatnya 130 tahun, barulah perjuangan kemerdekaan rakyat Comoro mencapai hasilnya.
Dan yang hebat, meski belum lama bergabung dalam Liga Arab, kiprah Comoro sudah muncul dan terlibat aktif dalam turut memecahkan peristiwa internasional. Salah satunya, maslah Palestina, lebih khususnya Gaza. Saat Israel melakukan serangan brutal atas Gaza, Comoro adalah satu dari sekian negara yang hadir dalam konferensi di Doha, dan menyatakan protes keras atas Israel. Sejumlah 14 negara Arab, yakni Suriah, Qatar, Lebanon, Palestina, Libya, Sudan, Aljazair, Yaman, Jeputy, Djibouti, Comoro, Somlia, Oman, Mauritania, dan Maroko sepakat berpatisipasi pada pertemuan itu.
Orang-orang Comoro dikenal ramah, suka menerima tamu dan memilki bakat seni. Kaum perempuan banyak yang berprofesi menjahit, sementara kaum laki-laki menekuni ukiran kayu. Mereka juga bangga dengan warisan Islam yang mereka miliki.Bayangkan saja hanya dengan luas 1800an km2 yang 720an km2 adalah bebatuan, terdapat sekitar 1400 masjid di seluruh pulau-pulau comoro.
MASIH TERMASUK NEGARA MISKIN
Sayangnya, hampir sama dengan sejumlah negara Afrika pada umumnya, Comoro termasuk dalam rate negara berkependudukan miskin. "Kurangnya pengetahuan adalah salah satu alasan yang paling penting bagi gizi buruk di Comoro," kata Direktur pusat terapi Domoni gizi, Maissa Chaharmane. Menurut sebuah studi yang dilakukan pemerintah empat tahun lalu, lebih dari 42% anak-anak di Comoro di atas dan di bawah usia lima tahun menderita kekurangan gizi kronis, dan lebih dari satu dari lima
anak-anak menderita kekurangan gizi. "Hampir setiap hari, ibu-ibu datang ke saya, memiliki anak-anak Anda lemah dengan mereka, menanyakan kapan kami membuka pintu," kata Marouvua, perawat lokal. "Sayangnya, kematian dari kekurangan gizi adalah kejadian biasa. "Hanya sebagian kecil ibu-ibu yang tinggal di pulau-pulau menyusui bayi remeka. "kadang-kadang orang tua memberi makan anak-anaknya yang belum enam bulan usianya dengan ubi kayu dan pisang raja matang, dan tidak tahu putra atau putri mereka masih terlalu muda untuk mencerna makanan ini," kata Ms Chaha.
Beragam masalah pendidikan dan ekonomi, selain politik, yang terus mendera umat Muslim Comoro. Meski untuk ukuran Kerjasama regional Afrika, para pemuda Comoro sudah banyak yang mengecap pendidikan di luar Comoro, di sesama negara Afrika, semisal di Sudan. Tapi tetap saja, keterpencilan dan situasi keamanan politik yang belum terlalu stabil, selain usianya yang masih baru, juga menyebabkan permasalahan kemiskinan belum bisa teratasi.
Mengenal sebuah negara Muslim, meski kecil, memang memiliki arti tersendiri. Setidaknya, kita bisa lebih membuka mata, akan luasnya aset SDM dan bumi Islam kita. Sekaligus, menyadari problemantika mereka yang tentu harus mendapat perhatian yang layak atas nama sesama saudara Muslim. (Tarbawi)
Minggu, 06 Juni 2010
Membersihkan Jazirah Arab dari YAHUDI
Yahudi
adalah bangsa yang terlaknat oleh Allah SWT (laknatullah) dari masa Rasulullah sampai hari kiamat nanti, tidak ada kata perdamaian dengan mereka.
Akibat pengkhianatan mereka atas Piagam Madinah, satu persatu kelompok Yahudi diusir dari Madinah. Sejak pemerintahan Umar bin Khaththab
, Jazirah Arab dinyatakan bersih dari orang-orang Yahudi
.
Akibat pengkhianatan mereka atas Piagam Madinah, satu persatu kelompok Yahudi diusir dari Madinah. Sejak pemerintahan Umar bin Khaththab
PADA PERANG AHZAB

, Yahudi kembali melakukan penghianatan. Kali ini dilakukan oleh Bani Quraizhah. Mereka melakukan koalisi dengan dengan pasukan kafir untuk menghancurkan Nabi Muhammad dan kaum muslimin. Tindakan mereka ini sangat membahayakan pasukan islam yang memang saat itu tengah terjepit. Allah mengerakkan hati Nuaim bin Mas'ud untuk berinisiatif memecah belah koalisi mereka. Kaum muslimin pun keluar sebagai pemenang. Pasukan Ahzab kocar-kacir kembali ke kampung halamannya membawa kekalahan.
Ketika perang Ahzab berakhir

, Rasulullah saw segera memerintahkan pasukakan untuk mengepung perkampungan Bani Quraizhah. Tanpa pilihan lain, Bani Quraizhah taklukdi bawah titah kaum muslimin. Lebih dari enam ratus laki-laki Bani Quraizhah yang tak mau memeluk Islam dibunuh
. Para wanitanya ditawan dan kekayaaan mereka dijadikan harta rampasan. Dalam pengepungan itu, Saad bin Muadz, tak mampu bertahan dari luka-lukanya. Ia pun syahid 

setelah memberikan keputusan atas nasib Bani Quraizhah (Ar-Rahiqul Makhtum Shafiyur Rahman al-Mukbarakfuri).
Ternyata, hancurnya perkampungan Bani Quraizhah bukanlah akhir dari sejarah Yahudi di masa Rasulullah saw. Mereka masih memiliki markas dan benteng-benteng

kokoh di Khaibar (Baca Shiroh Nabawiyah). dari tempat inilah oarang-orang Yahudi mengatur segala rencana unruk membinasakan kaum Muslimin. Dari sinilah segala pengkhianatan Yahudi bermula.
Untuk melumpuhkan gerakan ini, Rasulullah saw memerintah pasukakannya menuju Khaibar. Satu demi satu benteng Khaibar
ditaklukkan. Setelah mengalami perjuangan
berat dan melelahkan, akhirnya semua benteng Yahudi bisa ditaklukkan. Dalam peristiwa ini sekitar 16 orang dari kaum Muslimin syahid. Sedangkan korban dari pihak Yahudi mencapai 93 orang, (Shahih Bukhari 590-591).
Sejak saat itu bangsa Yahudi takluk dii bawah naungan Islam. Meskindemikian, mereka tetap diberikan kesempatan hidup bahkan diberikan untuk menggarap perkebunan milik umat Islam dengan hasil yang adil. Hal ini terus berlangsung hingga pada pemerintaha Umar bin Khaththab.
Khalifah kedua pengganti Rasulullah saw ini segera mengirim surat pada orang-orang Yahudi. "Sesungguhnya Allah benar-benar mengizinkanku untuk mengusir kalian. Setalah sampai berita kepadaku bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, 'Janganlah sekali-kali ada dua agama berhimpun di Jazirah Arab. ' Karena itu, barangsiapa dari kaum Yahudi yang mendapat janji dari Rasulullah saw hendaklah ia datang kepadaku agar janjinya itu kutunaikan. Barangsiapa yang tidak mendapat janji dari Rasulullah saw, bersiap-siaplah untuk keluar dari Khaibar."

Umar benar-benar melaksanakan ketetapannya. Sejak saat itu, kaum Yahudi dinyatakan "bersih" dari Jazirah Arab
, baik secara ideologi, maupun fisik. Mereka menjadi bangsa yang tak bertanaah. Baru pada pertengahan abad ke 20, bangsa Yahudi berhasil mengelabui kaum Muslimim dan merampas bumi Palestina hingga kini. Jika tiba masanya nanti, mereka pun akan enyah dari permukaan bumi ini.
Rentetan pengkhianatan Yahudi ini memberikan pelajaran berharga bagi kita. Bahwa, dimana pun dan kapa pun orang Yahudi tak bisa di ajak berdamai. Mereka sudah ditakdirkan untuk menjadi musuh abadi kaum muslimin. Mereka yang masih bersedia melakukan perdamaian dengan Yahudi, bukan hanya tak bisa memahami teks Al-Qur'an yang jelas-jelas menyebutkan
"permusuhan abadi" ini (QS. Al-Baqarah : 120). Tapi juga, buta sejarah. Semoga kita termasuk orang yang bisa mengambil pelajarah dari masa lalu.
Ketika perang Ahzab berakhir
Ternyata, hancurnya perkampungan Bani Quraizhah bukanlah akhir dari sejarah Yahudi di masa Rasulullah saw. Mereka masih memiliki markas dan benteng-benteng
Untuk melumpuhkan gerakan ini, Rasulullah saw memerintah pasukakannya menuju Khaibar. Satu demi satu benteng Khaibar
Sejak saat itu bangsa Yahudi takluk dii bawah naungan Islam. Meskindemikian, mereka tetap diberikan kesempatan hidup bahkan diberikan untuk menggarap perkebunan milik umat Islam dengan hasil yang adil. Hal ini terus berlangsung hingga pada pemerintaha Umar bin Khaththab.
Khalifah kedua pengganti Rasulullah saw ini segera mengirim surat pada orang-orang Yahudi. "Sesungguhnya Allah benar-benar mengizinkanku untuk mengusir kalian. Setalah sampai berita kepadaku bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, 'Janganlah sekali-kali ada dua agama berhimpun di Jazirah Arab. ' Karena itu, barangsiapa dari kaum Yahudi yang mendapat janji dari Rasulullah saw hendaklah ia datang kepadaku agar janjinya itu kutunaikan. Barangsiapa yang tidak mendapat janji dari Rasulullah saw, bersiap-siaplah untuk keluar dari Khaibar."
Umar benar-benar melaksanakan ketetapannya. Sejak saat itu, kaum Yahudi dinyatakan "bersih" dari Jazirah Arab
Rentetan pengkhianatan Yahudi ini memberikan pelajaran berharga bagi kita. Bahwa, dimana pun dan kapa pun orang Yahudi tak bisa di ajak berdamai. Mereka sudah ditakdirkan untuk menjadi musuh abadi kaum muslimin. Mereka yang masih bersedia melakukan perdamaian dengan Yahudi, bukan hanya tak bisa memahami teks Al-Qur'an yang jelas-jelas menyebutkan
Langganan:
Postingan (Atom)