Jumat, 06 Agustus 2010

PERANG BADAR AL-KUBRA

Mendengar berita mengenai rencana kedatangan kafilah perdagangan kaum Quraisy dari Syam di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb, Rasulullah swa mengajak kaum Muslimin langsung di bawah komando beliau untuk mencegat dan merampas kafilah tersebut, dengan dalil sebagai ganti atas kekayaan mereka yang dirampass oleh sebagian kaumkaum musyrikin di Mekkah. Anjuran Rasulullah swa ini hanya dismbut oleh sebagian kaum muslimin karena yang lain menyangka tidak akan terjadi peperangan.
Ditengah perjalannya menuju ke mekkah, Abu Sufyan mendengar bahwa kafilahnya akan dihadang oleh kaum Muslimin. Karena itu, diutusnya seorang kurir bernama Dhamdham bim Amr al-giffari ke Mekkah untuk menyampaikan berita kepada kaum Quraisy dan meminta bantuan pasukan gunnna menyelamatkan harta kekayaan mereka. Setelah mendengar berita ini, seluruh kaum Quraisy serta merta mempersiapkan diri, bersiaga penuh dan berangkat keluar dengan tujuan perang. Tak seorang pun dari para tokoh quraisy yang tertinggal dari keberangkatan pasukan yang berjumlah sekitar seribbu personil ini.
Sementara itu menurut riwayat Ibbnu Ishaq, Rasulullah saw keluar bersama 314 sahabatnya pada suatu malam di bulan Ramadhan dengan membawa 70 ekor unta. Seetiap ekkor unta ditunggangi secara bergantianoleh dua atau tiga orang. Mereka tidak mengetahui akan kebengkatan bala bantuan kaum Quraisy tersebut. Pada saat itu, kafilah Abu Sufyan berhassil lolos meninggalkan dan menyusuri mata air Badar dengan melalui jalan pantai menuju ke arah Makkah. Akhirnya, ia berhasil menyelamatkan kafilah dan perniagaannya dari ancaman bahaya.

Setelah mendengar berita keberangkatan kaum Quraisy, Rasulullah saw segera meminta pandangan dari para sahabatnya. Kaum Muhajirin mendukunng dan memandang baik pendirian beliau. Salah satu di antara al-Miqdad bin Amr yang dengan tegas menyatakan, “Ya Rasulullah apa yang diperintahkan Allah kepada Anda. Kami tetap bersama Anda.....”Akan tetapi, Rasulullah saw terus memandang ke arah mereka dan berkata,”Kemukakanlah pandangan kalian kepadaku, wahai manusia.”Sa'ad bin Mu'adz kemudian menjawab,”Demi Allah, tampaknya Anda menghendaki sikap kami, wahai Rasulullah?” Naabi saw menjawab,”Benar!”Sa'adz berkata,”kami telah bberiman kepada Anda dan kami pun membenarkan kenabbian dan kerasulan Anda. Kami juga telah menjadi saksi bahwa apa yang telah Anda bawa adalah benar. Atas dasar itu, kami menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada anda. Jalankan apa yang anda kehendaki. Kami tetap bersama Anda. Demi Allah, seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun ke dalamnya, kami pasti terjun bersama Anda......”
Mendengar jawaban Sa'ad inni, Rasulullah saw merasa puas dan senang kemudian beliau memerintahkan,”Berabgkatlah dengan hati gembira karena sesungguhnya Allah telah berjanji kepadaku salah satu diantara dua golongan. Demi Allah, aku seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan.......”
Setelah itu, Rasulullah saw mulai mencari berita tentang pasukan Quraisy melalui para “Intel” yang disebarkannya sehingga kaum Muslimin mengetahui bahwa mereka berjumlah sekitar sembilan ratus atau seribu dan bahwa mereka datang disertaai oleh seluruh tokok kaum musyrikin.
Sebenarnya Abu Sufyan telah mengirim seorang kurir ke Mekkah, memberitahukan bahwa kalifahnya telah selamat. Akan tetapi, Abu jahal tetap bersikeras untuk melanjuttkan perjalanan sembiari mengatakan,”Demi Allah, kami tidak akan pulangsebelum pulang dibadar. Di sana, kami akan tinggal selama tiga hari, memotong ternak, makan beramai-ramai, dan mimun arak sambil menyaksikan perempuan-perempuan yang menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah seluruh orang Arab mendengar tentang perjalanan kita semua dan biarlah mereka tetap gentar kepada kita selama-lamanya.”
Mereka kemudian bergerak sampai tiba di ppinnnggir seberang lembah Badar, sedangkan Rasulullah saw telah tiba di pinggir lembah seberang lain dengan posisi hampir berhadapan dengan lawan, dekat mata air Badar. Habbab bin Mundzir bertanya kepada nabi saw, “Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini Anda memerima wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak dapat diubah lagi? Ataukah berdasarkan tipu muslihat peperanga?” Rasulullah saw menjawab,”Tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan tipu muslihat peperangan.” Al-Habbab mengusulkan,”Ya Rasulullah, jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-summur di belakangnya. Kita menbuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian, kita akan bereperang dalam keadaan mempunyai persendian air minum yang cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum.”Rasulullah saw menjawab,”Pendapatmu sungguh baik.”
Rasululluh saw kemudian bergerak dan pindah ke tempat yang diusulkan oleh al-Habbab radhiyallahu 'anhu.
Disamping itu, Sa'ad bin Mu'adz mengusulkan supaya bila ada sesuatu dan lain hal yang tidak diharapkan terjadi, Nabi saw dapat kembali dengan mudah dan selamat kepada kaum Muslimin di Madinah dan agar mereka tidak lemah semangat karena ketidakberadaan Nabi saw diantara mereka. Usulan ini disetujui oleh Nabi saw. Rasulullah kemudian memenangkan jiwa para sahabatnya dengan adanya dukungan dan pertolongan dari Allah swt, sampai-sampai Rasulullah saw menegaskan kepada mereka,”Di sini tempat kematian si fulan dan si fulan (dari kaum musyrikin),”seraya meletakkan telapak tangannya di atas tanah. Akhirnya, nama-nama yang disebut Nabi saw ternyata benar bergelimpangan tepat di tempat yang telah ditunjukkannya itu.
Selanjutnya Rasulullah saw dengan khusyuk memaanjatkan do'a kepada Allah swt pada malam jumat tanggal 17 Ramadhan. Di antara do,a yang diucapkannya ialah:”Ya Allah, inilah kaum Quraisy yang datangg dengan segaala kecongkakan dan kesombongannya untuk memerangi Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya Allah, kalahkan mereka esok hari.........”
Beliau terus memanjatkan do'a kepada Allah swt dengan merendahkan diri dan khusuk seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit. Karena merasa iba, Abu Bakar berusaha menenangkan hati Nabi saw dan berkata kepadanya:” Ya Rasul Allah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah. Sesungguhnya, Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikannya kepadamu.”
Demikian pula kaum Muslimin, mereka ikut berdo'a kepada Allah swt memohon pertolongan dengan penuh ikhlas dan merendakan diri di hadapan-Nya.
Pada suatu hari jum'at, tahun kedua Hijrah, mulailah pertempuran antara kaum musyrikin dengan kaum Muslimin. Untuk memulai pertempuranini, Rasulullah saw mengambil segenggam kerikil kemudian dilemparkannya ke arah kaum Quraisy seraya berkata”Hancurkanlah Wajah-wajah mereka,”kemudian meniupkannya ke arah mereka sehingga menimpa mata semua pasukan Quraisy. Selai itu, Allah swt juga mendukung kaum Muslimin dengan mengirim bala bantuan Malaikat. Akhirnya, peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan kemenangan yang besar. Dari pihak kaum musyrikin, terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang, sedangkan dari pihak kaum Muslimin gugur mencapai syahid 14 orang.
Mayat-mayat kaum muslimin yang terbunuh dalam peperangan ini-termasuk tokoh mereka-dilemparkan ke dalam sumur tua di Badar. Ketika mayat-mayat itu dilemparkan kedalammya, Rasulullah saw berdiri di mulut perigi itu seraya memanggil nama-nama mereka berikut nama bapak-bapaknya,”Wahai fulan bin Fulan, wahai fulan bin fulan, apakah kalian telah berbahagia karena kalian telah menaati Allah swt dan Rasul-Nya? Sesungguhnya, kami telah menerima kebenaran janji Allah swt yang diberikan kepada kami; apakah kalian juga telah menyaksikan kebenaran yang dijanjikan Allah swt kepada kalian?”
Mendengar ini, Umar radhiyallahu 'anhu bertanya,”Ya rasulullah, mengapa Anda mengajak bicara jasad yang sudah tidak bernyawa?”Beliau menjawab,”Demi Zat yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih mendengar perkataanku daripada mereka!”
Rasulullah saw kemudian meminta pendapat para sahabatnya berkenaan dengan masalah tawaran. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu mengusulkan supaya Nabi saw membebaskan dengan cara mengambil tebusan dari ,ereka sehingga harta tebusan itu diharapkan menjadi pemasok kekuatan material bagi kaum Muslimin, disertai harapan mudah-mudahan Allah saw menunjuki mereka. Sementara itu, Umar ibnul Khatthab radhiyallahu 'anhu mengusulkan supaya mereka dibunuh saja karena merreka adalah tokoh dan gembong kekafiran. Nabi saw cenderung kepada pendapat dan usulan Abu Bakar yang memberi belah kasihan kepada mereka dan mengambil tebusan. Akhirnya, pendapat itu pun dilaksanakan oleh Nabi saw. Akan tetapi, beberapa ayat al-Qur'an kemudian diturunkan menegur kebijakan Nabi saw tersebut. Seharusnya, Nabi saw mendukung pendapat Umar. Firman Allah,”Tidak patut seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melimpuhkan musuhnya di muka bumi......Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu.....”(al-Anfal[8]: 67-69).

BEBERAPA 'IBRAH

Perang Badar Kubra ini mengandung beberapa pelajaran dan 'ibrah yang sangat penting, di samping mengandung beberapa mukjizat besar berkenaan dengan dukungan dan pertolongan Allah kepada kaum Muslimin yang berpegang teguh kepada prinsip-prinsip keimanan mereka dan keikhlasan dalam melaksanakan tanggung jawab mereka.

1. Sebab pertama terjadinya perang Badar ini menunjukkan bahwa motif utama kaum Muslimin keluar bersama Rasulullah saw bukan untuk berparang, melainkan didorong oleh tujuan mencengat kafilah Quraisy yang datang dari Syam di bawah kawalan Abu Sufyan. Allah swt menghendaki ghanimah (rampasan perang) dan kemenangan yang besar bagi para hamba-Nya, di samping merupakan tintadakan yang lebih mulia dan lebih sesuai dengan sasaran yang harus dicapai oleh kaum Muslimin dalam kehidupannya. Allah meloloskan kafilah yang menjadi tujuan utama mereka dan menggantinya dengan peperangan yang sama sekali tidaak pernah mereka duga. Hal ini menunjukkan kepada dua hal.
Pertama, semua harta kekayaan kaum kafir Harbi oleh kaum Muslimin dianggap sebagai “harta yan tidak mulia”.Boleh dirampas dan dikuasai oleh kaum Muslimin manakalah mereka mampu mengambilnya. Apa saja yang telah jatuh ditangan Muslimin dianggap telah menjadi milik mereka. Hukum ini telah disepakati oleh para fuqaha. Di samping itu kaum Muhajirin yang telah diusir dari negeri mereka di Makkah menpunyai alasan lain untuk merampas kafilah Quraisy, yaitu usaha pengambilan hak sebagai ganti rugi kekayaan mereka yang masih tertinggal di Makkah dan dikuasai oleh kaum musyrikin.
Kedua, kendatipun hal ini diperbolehkan, Allah menghendaki pada hamba-Nya yang beriman suatu tujuan yang lebih mulia daripada tindakan tersebut dan lebih sesuai dengan tugas yang menjadi sasaran pencitaan mereka , yaitu bertaqwa pada agama Allah swt, jihad di jalanNya, berkorban dengan nyawa dan harta demi meninggikan kalimat Allah swt. Itulah sebabnya, Abu Sufyan kemudian berhasil lolos bersama kafilahnya dari kaum Muslimin. Sementara itu, pasukan Quraisy menderita kekelahan. Hal ini merupakan tarbiyah Illahiyah bagi kaum Muslimin yang dengan jelas tampak tergambar dalam firman Allah swt: “Dan (ingatlah), ketika Allah menjadikan kepadamu bahwa salah satu dari golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedangkan kamu menginginkan bahwa yang ridak mempunyai kekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk kebenaran yang benar (membuktikan kebenaran) dengan ayat-ayat-Nya dan menusnakan orang-orang kafif.”(al- Anfal:[8]:7).

2. Dalam mengdapi musuh tersebut ada dua pelajaran yang sangat penting:
Pertama, Prinsip musyawarah. Rasulullah selalu berpegang teguh kepada syura dalam menghadapi semua permasalahan. Kaum Muslimin menyepati bahwa syura, dalam masalah yang tidak ditegaskan oleh nash al-Qur'an dan as-Sunnah, merupakan prinsip perundang-undangan yang tidak diabaikan . Adapun menyangkut massalah yang sudah ditegaskan oleh al-Quran atau hadits, tidak boleh diperlukan lagi adanya syura dan bahkan tidak boleh dikalahkan oleh kekuasaan apa pun. Kedua, bahwa kondisi peperangan ataau perjanjian antara kaum Muslimin dan umat lain dibolehkaaan untuk tunduk kepada apa yang disebut dengan siyasah syar'iyah (politik syariat) atau hukmal imamah keputusan pemimpin).

3. Kenapa Rasulullah terus memandang ke arah sahabat-sahabatnya? Karena Rasulullah tidak puas dengan jawaban mereka, dan Rasulullah ingin mengetahui pendapat kaum Anshaor dalam masalah peperangan tersebut. Apakah mereka mengemukkan pendapat berdasarkan kepada mu'ahadah (janji setia) di antara mereka dan Rasulullah ataukah mereka akan mengemukakan pendapat berdasarkan rasa keislaman mereka dan mu'ahadah kubra (janji agung) terhadap Allah. Perjanjian yang di muat oleh firman Allah swt:”Sesungguhnya Allah telah membeli diri orang-orang yang beriman (Mukmin) diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, injil dan al-Qur'an. Siapakah yang paling menepati janji (sellain) daripada Allah? Bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu. Itulah kemenangan yang benar.”(at-Taubah [9]:111).

4. Dalam melaksanakan jihad dan lainnya, imam dibolehkan menggunakan “intel” (spionase, mata-mata) yang disebarkan dikalangan musuh guna membongkar dan mengetahui perencanaan dan kekuatan mereka. Untuk melaksanakan tujuan ini, dibolehkan menggunakan beraneka sarana asalkan tidak merusak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afifatul Qona'ah

Afifatul Qona'ah

Mesin Penghasil Uang