Minggu, 23 Mei 2010

GEMPA


Gempa adalah sentakan asli pada kerak bumi sebagai gejala pengiring dari aktivitas tektonisme maupun vulkanisme dan kadang-kadang runtuhan bagian bumi secara local. Yang dapat dirasakan pada waktu gempa itu terjadi ialah getaran bumi tempat kita berada pada saat itu. Bumi di goyang kesamping dan ke atas. Itulah gelombang gempa yang sampai ke tempat kita. Pada waktu mengalami gempa , kita tidak tahu dari mana gempa itu datang, sehingga kita tidak tahu ke arah mana harus lari untuk menjauhi sumber gempa itu.


Ada tiga macam gelombang gempa yaitu:

1. Gelombang longitudinal yaitu gelombang gempa yang merabat dari sumber gempa ke segala arah dengan kecepatan 7 – 14 km per detik. Gelombang ini pertama kali dicatat dengan seismograf dan pertama kali dirasakaan orang di daerah gempa, sehingga dinamakan gelombang primer.
Kemudian, gelombang longitudiinal diikuti oleh gelombang transversal.

2. Gelombang transversal yaitu gelombang yang sejalan dengan gelombang primer dengan kecepatan 4 – 7 km per detik, dinamakan juga gelombang sekunder.

3. Gelombang panjang atau gelombang permukaan, yaitu gelombang gempa yang merambat di permukaan bumi dengan kecepatan sekitar 3,5 – 3,9 km per detik. Gelombang inilah yang paling banyak menimbulkan kerusakan.
Bagaimana gempa itu terjadi? Maru kita pelajari sambil mengenal istilah yang dipakai dalam Ilmu Gempa (Seismologi).

Istilah-istilah dalam ilmu gempa:

1. Hiposentrum
ialahh sumber, tempat peristiwa (tektonik, vulkanik, atau bongkahan tanah roboh) yang menyebabkan gempa. Jika penyebabnya patahan kerak bumi, maka hiposentrumnya berbentuk garis. Akan tetapi, jika gunung api atau tanah roboh, hiposentrumnya berbentuk titik. Dari hiposentrum gelmbang primer dan sekunder dirambatkan ke segala arah, yakni ke atas, ke samping maupun ke bawah.
Persebaran hiposentra gempa di bumi seletak dengan pertemuan dua lempeng kerak bumi, terutama di tempat pemujaman dan pemekaran dasar samudera,

2. Episentrum
ialah titik atau garis pada permukaan bumi tegak lurus di atas hiposentrum. Pada episentrum getaran gempa pertama kali muncul ke permukaan bumi. Dari episentrum getaran permukaan mulai dirambatkan secara horizontal ke segala arah.

3. Makro seisma,
yaitu daerah sekitar episentrum yang mendapat getaran dan menimbulkan kerusakan yang paling hebat.
4. Pleistaseista,
yaitu garis pada peta yang membatasi makro seisma.

5. Isoseista,
yaitu garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat di permukaan bumi yang menderita kerusakan yang sama akibat sebuah gempa. Garis tersebut biasanya berbentuk lingkaran atau ellips sekitar episentrum. Kadang-kadang juga isoseista berbentuk garis patah, karena kepadatan batuan pada kerak bumi yang dilalui gelombang gempa. Setiap isoseista diberi tanda angka romawi. Yang terdekat kepada episentrum diberi angka yang paling besar, berangsur mengecil ke arah keluar.

6. Homoseista,
yaitu garis pada peta yang menghubungkan tempat—tempat dipermukaan bumi yang mencatat gelombang primer pada waktu yang sama. Homoseista kebanyakan berbentuk lingkaran atau ellips. Oleh karena itu, dengan tiga tempat yang terletak pada satu homoseista kita dapat menentukan letak episentrum.

KLASIFIKASI GEMPA

Berdasarkan penyebabnya dan derajat kekuatan getarannya, gempa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Gempa tektonik,
yaitu gempa yang terjadi karena pergeseran kerak bumi. Telah kita ketahui, daerah pertemuan lempeng merupakan zona sumber gempa tektonik.

2. Gempa vulkanik,
yaitu gempa yang terasa di sekitar gunung api menjelang letusan, pada saat letusan, dan beberapa waktu setelah letusan utama.

3. Gempa tanah runtuh,
yaitu gempa yang mengiringi bagian gua yang roboh, misalnya gua kapur atau lorong pertambangan yang lapuk.

Gempa tektonik itu pada umumnya sangat kuat, berturut-turut bertambah gempa vulkanik dan gempa tanah rutuh bertambah lemah dengan areal gempa yang makin senpit.

Gempa juga dibedakan berdasarkan bentuk episentranya, yaitu sebagai berikut:

1. Gempa linier, episentrum berbentuk garis
2. Gempa sentral, episentrum berbentuk titik

Di atas telah diterangkan apabila hiposentrum berbentuk garis dan bila berbentuk
titik. Jika hiposentrum berbentuk garis, episentrumnya juga berbentuk garis.

Klasifikasi gempa berdasarkan jarak fokus atau kedalaman hiposentrum, adalah:

1. Gempa dalam, dalamnya lebih dari 300 km,
2. Gempa intermidier, dalamnya 100 – 300 km
3. Gempa dangkal, dalamnya kurang dari 100 km

Klasifikasi gempa bersadarkan jarak episentra, adalah:

1. Gempa lokal, jaraknya kurang dari 10.000 km,
2. Gempa jauh, jaraknya 10.000 km, dan
3. Gempa sangat jauh, jaraknya lebih dari 10.000 km

Karena keadaan yang istimewa, dikenal juga istilaah gempa laut, yaitu jika episentrumnya terletak di dasar laut. Keistimewaannya yaitu karena gempa laut biasanya membawa bencana di pantai akibat tsunami, yaitu gelombang pasang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afifatul Qona'ah

Afifatul Qona'ah

Mesin Penghasil Uang