Minggu, 23 Mei 2010

PRIBADI MUSLIM


Al - Qur’an dan sunnah merupakan dua pusaka rasulullah saw yang
Harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan.
Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan
Pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur’an
Dan sunnah adalah pribadi yang shaleh. Pribadi, sikap, ucapan dan tindakan terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.


PERSEPSI masyarakaat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah (ibadah), padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim.

1. SALIMUL AQIDAH

Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Aqidah yang bersih menyebabkan seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Seorang muslim akan akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah dengan kebersihan dan kemantapan aqidah sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

”Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.(QS. Al-An’aam (6:162)

Kerena memiliki aqidah yang salim mmerupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

2. SHAHIHUL IBADAH

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam haditsnya; beliau menyatakan:”shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap ibadah haruslah merujuk sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. MATINUL KHULUQ

Akhlaq yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlaq yang mulia merupakan sikap dan perilaku yang harus dimilikii oleh setiap muslim., baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlaq yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat.
Karena begitu penting memiliki akhlaqq yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabaikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.(QS. Al-Qalam (68:4).

4. QOWIYYUL JISMI

Kekuatan jasmani ( qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapatt melaksanakan ajaran islam secara optimal dengan fisik yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
Kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencengahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskinpun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah bersabda yang artinya:
”Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah” (HR. Muslim).

5. MUTSAQQOFUL FIKRI

Intelek dalam berfikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul dalam fathonah (cerdas) dan Al-Qur’an banyak mengungkat ayat-ayat yang merangsa manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah Swt:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبيِّنُ اللّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Artinya: ”Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa'at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa'atnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”.(QS. Al-Baqarah (2:219).
Di dalam islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berfikir. Karena seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
Allah Swt mempertanyakan kepada kita tentang tingkat intektualitas seseorang sebagaimana firman Allah Swt:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

Artinya :”(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”(QS. Az-Zumur(39:9).

6. MUJAHADATUL LINAFSIHI

Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan itu akan ada manakala seorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.
Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus berupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda: “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim).

7. HARISHUN ALAWAQTIHI

Pandai menjaga waktu (harishun alawaqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu sendiri mendapat perhatian yang begitu basar dari Allah dan Rasil-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.
Allah Swt memberikan kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat semboyang yang menyatakan: ”lebih baik kehingan jam daripada kehilangan waktu”. Waktu merupakans esuatu yang cepat berlalu dan tidak akan kembali.
Oleh karena itu setiap muslim mat dituntut untuk mengelolah waktu dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalahh memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk, dan kaya sebelum miskin.

8. MUNAZHZHAMUN FI SYUUNIHI

Teratur dalam suatu urusan (munazhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian muslim yangditekankan oleh Al-Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerja sama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasis illmu pengetahuan diantara mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.

9. QODIRUN ALAL KASBI

Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahakankan kebenaran dan perjuangan menengakkan baru bisa dilaksanakan manakala seorang memiliki kemandiirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekkonomi. Karena itu kepribadian muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan massa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak dalam Al-Qur’an maupun Haditsdan hal itu memiliki keutamaaan yang sangat tinggi.
Dalam kaitan mencipttakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau keterampilan.

10. NAFI’UN LIGHOIRIHI

Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupaka suatu tubtutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang sekitarnya merasakan keberadaannya karena manfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mengsiapkan dirinya dan beruapya semaksimal mungkin untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakat.
Dalam kaitan inilah Rasul bersabda: ”sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. (HR.Qudhy dari Jabir).
Demikianlah secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan

Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya, mereka dapat mengalahkan dua ratus musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti (QS. Al-Anfaal :65)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afifatul Qona'ah

Afifatul Qona'ah

Mesin Penghasil Uang