Minggu, 06 Juni 2010

BAHAGIA

Ada cerita tentang kebahagiaan, suatu ketika Tuhan meminta dua malaikatnya membawa kebahagiaan untuk manusia. Tuhan hanya berpesan pada dua malaikatnya, "jangan letakkan ia ditempat yang terlalu sulit, hingga nanti manusia tidak menemukannya. Jangan pula terlalu gampang, karena manusia, nanti akan menyia-nyiakannya. Tapi yang jelas, letakkan di tempat yang bersih."


Maka kedua malaikatpun turun ke bumi dan berdialog. Yang satu ingin meletakkannya di puncak gunung. Dan yang satu ingin menaruhnya di dasar samudera. Singkat cerita, kedua malaikat tersebut menemukan tempat yang bersih, tidak jauh, tapi juga tidak mudah manusia mendapatkannya. Coba tebak sebelum melanjutkan pada paragraf selanjutnya.

Letak bahagia itu, dekat, tapi sekaligus jauh. Kedua malaikat tersebut meletakkan bahagia pada hati yang bersih. Ya, pada hati yang bersih. Hati, selalu ada pada diri kita, 24 jam sehari. Tapi hati yang bersih, begitu susah dan begitu berat mencapainya.

Pesan dari itu semua, menurut saya adalah, bahwa bahagia atau kebahagiaan hanya efek semata. Artinya, bukan kebahagiaan tujuan yang hendak kita capai, seharusnya. Karena bahagia, sekali lagi, hanyak dampak, hanya akibat, hanya rentetan dari begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan manusia.

Berhati bersih adalah tujaun. Berfikir terbuka adalah tujuan. Bersabar dalam perjuangan adalah tujuan. Memiliki ilmu yang bermanfaat adalah tujuan. Jika manusia mencari kebahagiaan, saya khawatir, manusia akan kelelahan. Sebab, bahagia tidak bisa diukur dengan angka, ditimbang dengan materi, atau dijajar seperti pangkat dan gelar. Jika di sana manusia mencari bahagia, ia seperti meminum air lautan. semakin banyak air laut diminum semakin haus pula dirasa. Sebab, akal selalu membisikkan mantera, agar manusia selalu mencari lebih banyak dan lebbih banyak lagi. Sampai tanah menyumpal mulutnya.

Tapi bayangkan jika manusia berhati bersih, dan bersabar dalam perjuangannya, menebar manfaat dengan ilmu, selalu terbuka pada sesuatu yang baik dan terang. Bahagia tak perlu diundang. Bahkan lebih jauh dari itu, kebahagian menjadi sangat kecil. Sebab, setelah kita melakukan semua itu, dan Allah ridha, bahagia menjadi seharia hidup kita.

Berhati bersih dan selalu berprasangka baik, pada manusia lain dan sang Pencipta manusia. Bersabar dalam perjuangan, menengakkan kalimat dan agama-Nya di atas dunia. Memberikan manfaat kepada manusia lain dengan ilmu-Nya dan juga selalu terbuka untuk bermuhasabah apakah perjuangan hari ini lebih baik dari perjuangan di masa lalu, itu tujuan hidup manusia. Dan jika dengan itu semua, lalu Allah ridha dan tersenyum untuk kita, seperti yang dijelaskan dalam hadits qudsi, jangankan bahagia, syurga pun terasa hambar dibanding senyum-NYA. Karena Allah telah ridha pada kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afifatul Qona'ah

Afifatul Qona'ah

Mesin Penghasil Uang