Minggu, 06 Juni 2010

CERDAS

Galileo Galilei, seorang ilmuwan Italia, pernah menulis surat pada putrinya yang menjadi biarawati. Dalam suratnya, Galileo menuliskan, seorang filsuf sejati ibarat seekor burung elang. Terbang sendiri, melalang angkasa, menetakkan pandangan yang tajam dan luas, mengawasi dan waspada. Sedangkan filsuf gadungan, seperti kawanan gurung-burung gagak. Terbang bergerombol. Berkoak-koak di angkasa dengan suara memekakkan, tapi kotorannya memenuhi bumi yang ada di bawah mereka.

Surat ini, selain sebagai alat komunikasi dengan anaknya tercinta, Maria Celeste, sebenarnya juga menjadi cara Galileo menghibur dirinya sendiri, sejak dewan gereja menghuku nya karena teori heliocentris yang ia perccaya. Galileo percaya bahwa , bumi bukanlah pusat dari alam semesta. Tapi mataharilah yangg menjadi titik tengah tata surya. Kepercayaan Galileo yang kini terbukti lewat scintific empiris itu dulu dibantah oleh gereja yang memiliki doktrin bahwa bumi adalah pusatnya.
Karena memiliki dan percaya pada teorinya itu pula, Galileo dihukum oleh gereja. Perpustakaannya dibakar, karya-karyanya dimusnakan dan Galileo sendiri dikucilkan dari masyarakat, terlebih dari masyarakat gereja. Padahal Galileo adalah seorang kristiani yang taat, seorang yang terbilang agamawan. Kondisi itu yang mendasari ia menulis filsuf sejati itu seperti elang. Sepi memang, sendiri memang, tapi ketejamannya, kewaspadaannya, pada akhirnya akan memberikan manfaat. Tidak saja bagi dirinya sendiri, tapi juga pada manusia seluruhnya.
Lagi-lagi, kita disodori bukti, bahwa sesungguhnya manfaatlah yang memberikan kemuliaan pada manusia. Manfaat pula yang menjadi bukti seseorang betul-betul cerdas atau hanya pura-pura cerdas. Jalan sepi yang dilalui seorang cerdas tak pernah mempengaruhinya untuk mencapai garis finish. Tak ada kelopak mawar disepanjang jalan, atau daun palma yang menyambut langkah bukan pula hal yang mengganggu pikiran. Karena memang bukan tempik sorai yang ia damba, tetapi lebih dari itu, perhatian sudah tersita habis untuk menguak misteri yang ditata Tuhan pada semesta dan mengambil manfaat darinya.
Sedangkan orang-orang yang pura-pura cerdas, selalu gelisa jika tak ada tempik sorai di sekitarnya. Langkah-langkahnya selalu terganggu ketika tak ada tepuk bangga di pundak. Sebaliknya, ia juga tak akan pernah samapai pada ujung perjalanan, karena sepanjang jalan terlena oleh buai pamor dan sanjung. Dan sejatinya, orang-orang yang berpura-pura cerdas tak pernah benar-benar memberi manfaat kecuali yang semu.

Manfaat atau tidak itulah yang menjadi indikasi jelas apakah seorang benar-benar cerdas atau hanya berpura-pura menjadi cerdas. Tapi untuk melihat indikasi itu, bukan barang gampang. Ada banyak selimut kabut yang harus disibak terlebih dahulu. Sehingga kita tak tertipu. Dan untuk itu, lihatlah orang-orang cerdas selalu mengajukkan gagasan, sedangkan orang yang pura-pura cerdas selalu mengulang-ulang gagasan. Orang-orang cerdas selalu menjadi sumber suara dan sumber gema. Tapi orang-orang yang berpura-pura cerdas, hanya bisa menjadi resonansi dan gema semata. Sudahkan kita tahu orang-orang cerdas di sekeliling kita? Orang-orang yang akan kita pilih sebagai teman atau juga sebagai pimpinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Afifatul Qona'ah

Afifatul Qona'ah

Mesin Penghasil Uang